Sabtu, 07 September 2013
Intisari Ajaran Agama Hindu
Alam material fana walaupun mendapatkan
sedikit kesenangan tapi kemudian diikuti dengan penderitaan, penuh dengan
ketidakpastian, bencana, kehilangan, kesedihan, kehinaan, rasa takut, rasa
sakit, rapuh, kotoran, hal-hal yang menjijikkan, penyakit, umur tua, serta
kematian yang bisa datang kapan saja. Hal-hal ini mulai menyadarkan kita untuk
mencari ‘jaminan’ ketenangan dan kebahagiaan abadi di alam Rohani Tuhan bebas
dari penderitaan di alam material.
Dengan kata lain tujuan kelahiran
manusia adalah menyadari adanya Ketuhanan (Atman / Brahman) sebagai diri kita
yang sejati dan hal yang sama untuk seluruh umat manusia dan semua mahluk.
Contoh, beberapa sifat-sifat Atman /
Brahman antara lain adalah kebahagiaan dan cinta. Apabila kita merasakan
kebahagiaan dan cinta yang disebabkan oleh suatu objek, sejatinya objek
tersebut tidak memiliki sifat atau memberikan kebahagiaan/cinta, objek tersebut
(yang hanya sementara) hanya media cermin memantulkan sifat bahagia/cinta yang
sebenarnya merupakan sifat sejati Atman.
Sedangkan ego dan nafsu serta sifat-sifat negative lainnya bukan sifat
Atman.
Secara garis besar ada 4 jalan/cara
untuk melatih kesadaran Tuhan ini yang pada dasarnya meng-eliminasi pengaruh
badan/indra/material yang memunculkan ego dan nafsu.
Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa
(Bhakti Yoga)
Penyerahan diri kepada Tuhan, selalu
ingat /sadar kepada Tuhan, tekun sepenuhnya dengan keyakinan dan cinta bhakti
(cinta bhakti misalnya dengan hubungan Tuhan sebagai Ayah Alam Semesta), dan
menyadari hanya Alam Rohani Tuhan Yang Abadi / kekal dan sebagai tujuan
tertinggi..
Bhagavad-gita 2.49
Wahai Dhananjaya, jauhilah segala yang
menjijikan melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu
kepada Tuhan Yang Mha Esa. Orang yang ingin menikmati hasil pekerjaannya adalah
orang pelit.
Bhagavad-gita 8.8
Orang yang bersemadi kepada-Ku sebagai
kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dengan pikirannya senantiasa tekun ingat
kepada-Ku, dan tidak pernah menyimpang dari jalan itu, dialah yang pasti
mencapai kepada-Ku, wahai Partha.
Bhagavad-gita 8.22
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang
lebih agung daripada semua kepribadian lainnya, dapat dicapai oleh bhakti yang
murni. Walaupun Beliau berada di tempat tinggal-Nya, Beliau berada di
mana-mana, dan segala sesuatu berada di dalam Diri-Nya.
Bhagavad-gita 9.22
Tetapi orang yang selalu menyembah-Ku
dengan bhakti tanpa tujuan yang lain dan bersemadi pada bentuk rohani-Ku – Aku
bawakan apa yang dibutuhkannya, dan Aku memelihara apa yang dimilikinya.
Bhagavad-gita 10.10
Kepada mereka yang senantiasa setia
ber-bhakti kepada-Ku dengan cinta kasih, Aku berikan pengertian yang
memungkinkan mereka datang kepada-Ku.
Bhagavad-gita 9.34
Berpikirlah tentang-Ku senantiasa,
jadilah penyembah-Ku, bersujud kepada-Ku dan menyembah-Ku. Dengan berpikir
tentang-Ku sepenuhnya secara khusuk, pasti engkau akan datang kepada-Ku.
Tuhan senang bila engkau menolong dan
melayani sesama manusia (pengabdian / dharmabakti). Kitab-kitab suci telah
menetapkan 9 jalan bhakti, yaitu :
-
mendengarkan kisah-kisah Tuhan (shravanam)
-
menyanyikan kemuliaan Tuhan (kirtanam)
-
mengingat Nama-Nama Tuhan ( Vishnusmaranam)
-
melayani kaki Tuhan yang suci (padasevanam)
-
pemujaan (archanam)
-
sembah sujud (vandanam)
-
pengabdian (dasyam)
-
persahabatan (sneham)
-
pasrah / penyerahan diri kepada Tuhan sepenuhnya (atmanivedanam)
Akan tetapi, jalan pengabdian
(dharmabakti)-lah yang terluhur.
(Sabda Sathya Sai)
———————————————-
Pengorbanan, Yadnya (Karma Yoga)
Ketidakterikatan (tanpa pamrih) dalam
hal kedermawanan, kewajiban, pelayanan sosial, melaksanakan pekerjaan sendiri
(yang baik) dengan sebaik-baiknya, pertapaan (Upawasa), mengorbankan sift-sifat
buruk (mengorbankan sifat-sifat hewani), pengendalian diri dengan tidak
mendengarkan, tidak memikirkan, tidak berkata hal-hal buruk, menjaga lingkungan
dan alam, tidak menyakiti mahluk lain.
Bhagavad-gita 2.61
Orang yang mengekang dan mengendalikan
indria-indria sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya kepada-ku,
dikenal sebagai orang yang mempunyai kecerdasan yang mantap.
Bhagavad-gita 3.13
Para penyembah Tuhan dibebaskan dari
segala jenis dosa karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih
dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan
indria-indria pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja. (Catatan : Baca mantra sebelum makan, misalnya 1 kali
Mantra Gayatri)
Bhagavad-gita 3.19
Karena itu hendaknya seseorang bertindak
karena kewajiban tanpa terikat terhadap hasil kegiatan, sebab dengan bekerja
tanpa ikatan terhadap hasil seseorang sampai kepada Yang Mahakuasa.
Bhagavad-gita 4.27
Orang lain, yang berminat mencapai
keinsafan diri dengan cara mengendalikan pikiran dan indria-indria,
mempersembahkan fungsi-fungsi semua indria, dan nafas kehidupan, sebagai
persembahan ke dalam api pikiran yang terkendali.
Bhagavad-gita 5.29
Orang yang sadar kepada-Ku sepenuhnya,
karena ia mengenal Aku sebagai penerima utama segala korban suci dan pertapaan,
Tuhan Yang Maha Esa penguasa semua planet dan dewa, dan penolong yang
mengharapkan kesejahteraan semua makhluk hidup, akan mencapai kedamaian dari
penderitaan kesengsaraan material.
Bhagavad-gita 16.1
Tidak mencelakakan yang lainnya,
kejujuran, jauh dari rasa amarah, penyerahan total hasil dari
tindakan-tindakannya, kedamaian, tidak mencari-cari kesalahan, rasa sayang
terhadap semua makhluk hidup, kesederhanaan, jauh dari rasa ketidak setiaan.
Bhagavad-gita 17.25
Tanpa menginginkan hasil atau pahala,
hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan
kedermawanan dengan kata ‘tat’ (Om Tat Sat). Tujuan kegiatan rohani tersebut
ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material.
Bhagavad-gita 9.27
Apapun yang engkau lakukan, apapun yang
engkau makan, apapun yang engkau persembahkan atau berikan sebagai sumbangan
serta pertapaan dan apapun yang engkau lakukan-lakukanlah kegiatan itu sebagai
persembahan kepada-Ku, wahai putera Kunti.
Upacara (yadnya) di Bali merupakan
bagian dari Bhakti dan pengorbanan tulus iklas, termasuk saat proses membuat
sarana.
Perempuan Bali sedang melaksanakan salah
satu dari Yadnya
———————————————-
Pengetahuan, Kebijaksanaan (Jnana Yoga)
Akal budi yang berkemampuan
membeda-bedakan (Wiweka), akal budi harus dipergunakan untuk membedakan yang
terbatas dengan yang tak terbatas, yang asli dan yang palsu, yang sementara
dengan yang kekal.
Bhagavad-gita 2.15
Wahai manusia yang paling baik (Arjuna),
orang yang tidak goyah karena suka ataupun duka dan mantap dalam kedua keadaan
itu pasti memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan.
Bhagavad-gita 2.48
Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu
dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun
kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga.
Bhagavad-gita 3.42
Indria-indria yang bekerja lebih halus
daripada alam yang bersifat mati. Pikiran lebih halus daripada indria-indria;
kecerdasan lebih halus lagi daripada pikiran; dan Dia (sang roh ) lebih halus
lagi daripada kecerdasan.
Bhagavad-gita 5.9
Walaupun orang yang sadar secara rohani
sibuk dapat melihat, mendengar, meraba, mencium, makan, bergerak ke sana ke
mari, tidur dan tarik nafas, dia selalu menyadari di dalam hatinya bahwa
sesungguhnya dia sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia mengetahui bahwa
berbicara, membuang hajat, menerima sesuatu, membuka atau memejamkan mata, ia
selalu mengetahui bahwa hanyalah indria-indria material yang sibuk dengan
obyek-obyeknya dan bahwa dirinya (Atman) menyisih dari indria-indria material
tersebut.
Bhagavad-gita 13.30
Orang yang dapat melihat bahwa segala
kegiatan dilaksanakan oleh badan, yang diciptakan oleh alam material, dan
melihat bahwa sang diri (Atman) tidak melakukan apa pun, melihat dengan
sebenarnya.
Diri Kita Yang Sejati (Roh) berbeda
dengan badan material yang boleh dianggap hanya kekosongan / tidak nyata (ingat
benda pada akhirnya adalah atom, elektron, proton dst. yang hanya energi tidak
kasat mata), badan kita bisa dikatakan sama dengan gambaran orang yang ada di
layar televisi atau bioskop, yang hanya pancaran elektron atau sinar, apapun
kejadian yang terjadi di dalam layar televisi.. kita mestinya tidak menganggap
hal yang nyata/benar ada di layar televisi tersebut.
Karena yang nyata hanya Roh Individual
(Atma) dan Brahman (Tuhan), namun Atman pun adalah Brahman, diluar itu yaitu
alam, benda, badan adalah energi semata (energi / tenaga eksternal Tuhan).
Alam material dan badan seperti halnya
bayangan.. seolah-olah ada tapi sebenarnya tidak nyata.
Jadi karena tubuh orang lain saja tidak
nyata apalagi hal-hal yang muncul dari tubuh itu sendiri yaitu pikiran, ego,
suara dan gerak, bisa kita anggap tidak ada untuk mengembangkan / melatih
ketidakterikatan.
———————————————-
Meditasi (Raja Yoga)
Pada praktek Meditasi Transendental pada
dasarnya mengkondisikan fikiran menjadi rileks sehingga mendekati frekuensi
alam semesta tetapi harus dalam keadaan “jaga” yaitu duduk dengan badan tegak.
Dari penelitian jumlah energi yang diperlukan saat duduk meditasi lebih kecil
daripada dalam keadaan berbaring atau tidur.
Saat meditasi pada saat tertentu dicapai nafas yang halus bahkan hampir
tanpa nafas yang berarti saat itu kita mengakses energi kosmis (alam semesta
/Unity Field) sehingga tubuh dan mental kita mendapat energi positif,
memperoleh kesehatan fisik dan mental, mengikis stres, meningkatkan kreatifitas
dan kecerdasan / akal budi, menumbuhkan kesabaran, dll.
Praktek meditasi lain adalah Meditasi
Cahaya yang menggunakan cahaya lilin. Penyebaran kasih yang diajarkan didalam
Meditasi Cahaya yang secara lambat laun kita diangkat di angkat ke level ke
Ilahian bukan egoisme. Meditasi ini
sangat aman dan bisa dipelajari oleh siapapun.
Salah satu inti dari meditasi (dan juga
praktek sembahyang yang lain seperti Japa, Bhajan) adalah sibuk dengan Tuhan
dan melupakan khayal duniawi.
Bhagavad-gita 6.2
Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa
yang disebut melepaskan ikatan sama dengan yoga atau mengadakan hubungan antara
diri kita dengan Yang Mahakuasa, wahai putera Pandu, sebab seseorang tidak akan
pernah dapat menjadi yogi kecuali ia melepaskan keinginan untuk memuaskan
indria-indria.
Bhagavad-gita 6.25
Berangsur-angsur, selangkah demi
selangkah, seseorang harus mantap dalam semadi dengan menggunakan kecerdasan
yang diperkokoh oleh keyakinan penuh, dan dengan demikian pikiran harus dipusatkan
hanya kepada sang diri (Atman / Brahman) dan tidak memikirkan sesuatu selain
itu.
Bhagavad-gita 6.26
Dari manapun pikiran mengembara karena
sifatnya yang berkedip-kedip dan tidak mantap, seseorang dengan pasti harus
menarik pikirannya dan membawanya kembali di bawah pengendalian sang diri.
Bhagavad-gita 6.27
Seorang yogi yang pikirannya sudah
dipusatkan pada-Ku pasti mencapai kesempurnaan tertinggi kebahagiaan rohani.
Dia berada di atas pengaruh sifat nafsu, dia menginsafi persamaan sifat antara
dirinya dan Yang Mahakuasa, dan dengan demikian dia di bebaskan dari segala
reaksi perbuatan dari dahulu.
———————————————-
Ke-empat Jalan mencapai kepada Yang Maha
Kuasa (Yoga) tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan tidak bisa
dipisahkan, misalnya seorang praktisi Meditasi
kepada Cahaya Tuhan pada saat yang sama juga sedang melakukan praktek
Bhakti kepada Tuhan. Atau ketenangan
fisik dan mental karena meditasi membantu pelaksanaan yoga-yoga yang lain.
Seorang yang ber-Bhakti kepada Tuhan
mesti juga menolong dan hormat dengan sesama manusia dan mahluk hidup lainnya, serta peduli dengan
lingkungan tanpa pamrih (Karma).
Tanpa menyiangi rumput di ladang dan
menyiapkan tanahnya untuk ditanami, benih yang ditebarkan tidak akan
menghasilkan panen yang baik. Demikian pula tanpa menghilangkan rerumputan liar
egoisme dari dalam dirimu, segala usaha pengamalan spiritual akan sia-sia. Hal
yang penting dipelajari dari Bhakti Yogaialah bahwa engkau jangan hanya
mencintai Tuhan, tetapi juga semua makhluk. Memuja Tuhan di satu pihak, tetapi
di lain pihak merugikan atau menyakiti makhluk lain, tidak dapat dinamakan
pengabdian kepada Tuhan. Hal itu hanya menunjukkan kedunguan seseorang. Orang
semacam itu tidak akan pernah maju dalam bidang spiritual.
Jika engkau ingin dekat Tuhan, engkau
harus mengembangkan sifat suci cinta kasih. Hanya dengan cinta kasih engkau
akan dapat menghayati Tuhan, karena Dia adalah cinta kasih itu sendiri. Jika
engkau ingin melihat bulan tidak perlu memakai lilin atau obor. Cahaya bulan itu
sendiri sudah cukup untuk melihat bulan. Jika engkau ingin melihat Tuhan,
engkau hanya perlu membenamkan dirimu dalam cinta kasih. Penuhilah dirimu
dengan kasih, engkau pasti akan mencapai Tuhan.
(-Bhagavan Sri Sathya Sai Baba – ).
———————————————-
Pada bagian lain, pokok-pokok keimanan
(kepercayaan) dalam agama Hindudibagi menjadi lima bagian yang disebut dengan
Panca Sradha, yaitu percaya adanya Tuhan (Bhagavan, Brahman), percaya adanya
Atman (Diri Kita yang Sejati, Roh Individual), percaya adanya Hukum Karma Phala
(Sebab Akibat), percaya adanya Punarbhawa (Reinkarnasi/ Samsara) dan percaya
adanya Moksa(Kebebasan dari kelahiran dan kematian / Alam Rohani Tuhan /
Kebahagiaan tertinggi / Surga Abadi).
Ilustrasi : Badan (Kereta), Roh Individu
(Penumpang),
Pengendalian Panca Indria (5 Kuda) oleh
Akal Budi/
Kecerdasan (Kusir) melalui fikiran (tali
kendali).
Pengertian dan Tujuan Agama Hindu
Pengertian dan Tujuan Agama Hindu
shiva-hindu-god.jpgAgama sebagai pengetahuan kerohanian yang menyangkut soal-soal rohani yang bersifat gaib dan methafisika secara esthimologinya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata “A” dan “gam”. “a” berarti tidak dan “gam” berarti pergi atau bergerak. Jadi kata agama berarti sesuatu yang tidak pergi atau bergerak dan bersifat langgeng. Menurut Hindu yang dimaksudkan memiliki sifat langgeng (kekal, abadi dan tidak berubah-ubah) hanyalah Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Demikian pula ajaran-ajaran yang diwahyukan-Nya adalah kebenaran abadi yang berlaku selalu, dimana saja dan kapan saja.
Berangkat dari pengertian itulah, maka agama adalah
merupakan kebenaran abadi yang mencakup seluruh jalan kehidupan manusia yang
diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi dengan tujuan untuk
menuntun manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup yang berupa kebahagiaan yang
maha tinggi dan kesucian lahir bathin.
Tujuan agama Hindu yang dirumuskan sejak Weda mulai
diwahyukan adalah “Moksartham Jagadhitaya ca iti Dharma”, yang artinya bahwa
agama (dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan
hidup jasmani atau kebahagiaan secara lahir dan bathin. Tujuan ini secara rinci
disebutkan di dalam Catur Purusa Artha, yaitu empat tujuan hidup manusia, yakni
Dharma, Artha, Kama dam Moksa.
Dharma berarti kebenaran dan kebajikan, yang menuntun umat
manusia untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan. Artha adalah benda-benda
atau materi yang dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan hidup manusia. Kama artinya hawa nafsu, keinginan,
juga berarti kesenangan sedangkan Moksa berarti kebahagiaan yang tertinggi atau
pelepasan.
Di dalam memenuhi segala nafsu dan keinginan harus
berdasarkan atas kebajikan dan kebenaran yang dapat menuntun setiap manusia di
dalam mencapai kebahagiaan. Karena seringkali manusia menjadi celaka atau
sengsara dalam memenuhi nafsu atau kamanya bila tidak berdasarkan atas dharma.
Oleh karena itu dharma harus menjadi pengendali dalam memenuhi tuntunan kama
atas artha, sebagaimana disyaratkan di dalam Weda (S.S.12) sebagai berikut:
Kamarthau Lipsmanastu
dharmam eweditaccaret,
na hi dhammadapetyarthah
kamo vapi kadacana.
Artinya:
Pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, maka
hendaknyalah dharma dilakukan terlebih dahulu. Tidak dapat disangsikan lagi,
pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti. Tidak akan ada artinya, jika
artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma.
Jadi dharma mempunyai kedudukan yang paling penting dalam
Catur Purusa Artha, karena dharmalah yang menuntun manusia untuk mendapatkan
kebahagiaan yang sejati. Dengan jalan dharma pula manusia dapat mencapai Sorga,
sebagaimana pula ditegaskan di dalam Weda (S.S.14), sebagai berikut:
Dharma ewa plawo nanyah
swargam samabhiwanchatam
sa ca naurpwani jastatam jala
dhen paramicchatah
Artinya:
Yang disebut dharma adalah merupakan jalan untuk pergi ke
sorga, sebagai halnya perahu yang
merupakan alat bagi saudagar untuk
mengarungi lautan.
Selanjutnya di dalam Cantiparwa disebutkan pula sebagai
berikut:
Prabhawar thaya bhutanam
dharma prawacanam krtam
yah syat prabhawacam yuktah
sa dharma iti nicacayah
Artinya:
Segala sesuatu yang bertujuan memberi kesejahteraan dan
memelihara semua mahluk, itulah disebut dharma (agama), segala sesuatu yang
membawa kesentosaan dunia itulah dharma yang sebenarnya.
Demikian pula Manusamhita merumuskan dharma itu sebagai
berikut:
“Weda pramanakah creyah sadhanam dharmah”
Artinya:
Dharma (agama) tercantum didalam ajaran suci Weda, sebagai
alat untuk mencapai kesempurnaan hidup, bebasnya roh dari penjelmaan dan
manunggal dengan Hyang Widhi Wasa (Brahman).
Weda (S.S. 16) juga menyebutkan :
Yathadityah samudyan wai tamah
sarwwam wyapohati
ewam kalyanamatistam sarwwa
papam wyapohati
Artinya:
Seperti halnya matahari yang terbit melenyapkan gelapnya
dunia, demikianlah orang yang melakukan dharma, memusnahkan segala macam dosa.
Demikianlah dharma merupakan dasar dan penuntun manusia di
dalam menuju kesempurnaan hidup, ketenangan dan keharmonisan hidup lahir
bathin. Orang yang tidak mau menjadikan dharma sebagai jalan hidupnya maka
tidak akan mendapatkan kebahagiaan tetapi kesedihanlah yang akan dialaminya.
Hanya atas dasar dharmalah manusia akan dapat mencapai kebahagiaan dan
kelepasan, lepas dari ikatan duniawi ini dan mencapai Moksa yang merupakan
tujuan tertinggi. Demikianlah Catur Purusa Artha itu.[]
Tuntunan Dasar Agama Hindu (milik Departemen Agama)
Disusun oleh: Drs. Anak Agung Gde Oka Netra
Pengertian Agama Hindu
Hindu (bahasa Sansekerta: Dharma Sanātana (abadi), juga dikenal sebagai Dharma Vaidika (Veda)) adalah satu agama atau filsafat yang berasal dari subbenua India dan wilayah sekitarnya yang dekat. Agama ini adalah agama tertua yang diketahui di dunia, dan yang tidak memiliki pendiri, kitab, atau kota suci yang utama .. Kitab pertama agama ini adalah Veda dan dengan bertahan waktu, banyak kitab yang lain juga termuncul.
Istilah Hindu mencakup berbagai aliran pikiran dan aliran, serta upacara-upacara amal yang amat berbeda. Banyak penganut Hindu yang dipengaruhi oleh filsafat Advaita bersembahyang kepada berbagai dewa, dan menganggap dewa-dewi ini sebagai penjelmaan-penjelmaan untuk satu Roh Kosmo monistik yang agung (Brahman), sedangkan banyak penganut yang lain berfokus pada satu konsep mufrad untuk Brahman (Tuhan ), misalnya Vaishnavisme, Saivisme dan Syaktisme.
Hindu adalah agama yang ketiga terbesar di dunia, dengan lebih kurang 900 juta penganut (angka 2005). Kira-kira 890 juta dari jumlah itu tinggal di India
Dalam Bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang terkandung dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) - sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda.
Kebanyakan penduduk Bali menerapkan sejenis agama Hindu yang disebut, Agama Hindu atau Hindu Dharma. Agama Hindu di Bali merupakan gabungan unsur-unsur Hindu dan Buddha yang dipadukan dengan kepercayaan asli orang Bali.
Agama Hindu dan Buddha tiba di Bali melalui Pulau Jawa dan juga secara langsung dari negeri India di antara abad ke-8 dan ke-16. Unsur kedua agama tersebut berkembang dan bergabung di Bali. Penggolongan masyarakat ke empat kasta yang dianut masyarakat India juga diterapkan di dalam masyarakat Bali. Masyarakat Bali dibagi menjadi empat kasta: Brahmana, Satriya, Wesya dan Sudra.
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2296036-pengertian-agama-hindu/##ixzz2eE4F61qL
Istilah Hindu mencakup berbagai aliran pikiran dan aliran, serta upacara-upacara amal yang amat berbeda. Banyak penganut Hindu yang dipengaruhi oleh filsafat Advaita bersembahyang kepada berbagai dewa, dan menganggap dewa-dewi ini sebagai penjelmaan-penjelmaan untuk satu Roh Kosmo monistik yang agung (Brahman), sedangkan banyak penganut yang lain berfokus pada satu konsep mufrad untuk Brahman (Tuhan ), misalnya Vaishnavisme, Saivisme dan Syaktisme.
Hindu adalah agama yang ketiga terbesar di dunia, dengan lebih kurang 900 juta penganut (angka 2005). Kira-kira 890 juta dari jumlah itu tinggal di India
Dalam Bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang terkandung dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) - sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda.
Kebanyakan penduduk Bali menerapkan sejenis agama Hindu yang disebut, Agama Hindu atau Hindu Dharma. Agama Hindu di Bali merupakan gabungan unsur-unsur Hindu dan Buddha yang dipadukan dengan kepercayaan asli orang Bali.
Agama Hindu dan Buddha tiba di Bali melalui Pulau Jawa dan juga secara langsung dari negeri India di antara abad ke-8 dan ke-16. Unsur kedua agama tersebut berkembang dan bergabung di Bali. Penggolongan masyarakat ke empat kasta yang dianut masyarakat India juga diterapkan di dalam masyarakat Bali. Masyarakat Bali dibagi menjadi empat kasta: Brahmana, Satriya, Wesya dan Sudra.
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2296036-pengertian-agama-hindu/##ixzz2eE4F61qL
Minggu, 25 Agustus 2013
Cara Mengenable Regedit dan Start Task Manager DI Win 7
Assalamualaikum sahabat blogger yang saya cintai dan saya sayangi , ini saya mau berbagi pengalaman saya Saat saya mau buka Start Tak Manager dan regedit ternyata tidk bisa di buka mungkin dikarenakan laptop saya pernah kena virus dan mungkin ada seseorang yang iseng mendisable regedit dan task manager saya , pada waktu kita akan mengakses Task manager Windows ternyata Task Manager Anda tidak dapat diakses alias disable. Ini bisa disebabkan oleh virus atau juga memang oleh sang Administrator-nya telah di disable untuk mencegah orang yang tidak berkepentingan mengotak-ngatik task manager Windows-nya. Jika Anda pernah mengalami kejadian seperti ini Task Manager has been disable by your administrator atau Registry editor has been disable by your administrator .
ketika Anda mengakses Start Task Manager pada menu run keluar dialog box seperti ini :
inilah solusi singkat yang dapat membantu Anda mengatasi masalah pada di atas.
klik menu Start-run atau Anda bisa mengkombinasikan tombol Windows+R pada keyboard. Selanjutnya masukan perintah : gpedit.msc
Akan muncul Windows Group Policy, selanjutnya akan ke [User Configuration]-[Administrative Templates]-[System]
Setelah itu pada jendela sebelah kanan(panel setting) Double Klik Ctrl+Alt+Del Options
Lalu sehabis itu Double Klik Remove Task Manager
Pada jendela yang muncul pilih NOT CONFIGURED atau DISABLED, untuk mengatifkan fungsi task manager
Lalu klik OK.
Sekarang Anda coba akses kembali regedit dari komputer Anda,jika belum bisa juga coba Anda restart komputer Anda dan akses lagi registry editor-nya.
Dan jika Anda ingin sengaja mendisable task manager Anda, caranya sama dengan di atas cuman pada tahap akhir setelah Anda mengklik Remove Task Manager, pilih Enable dan klik OK, maka Task Manager Anda akan terdisable.
Sekian Tips dari saya dan Selamat Mencoba :)
nah itu tadi cara mengaktifkan / mengenable Start Task Manager yg terdisable , sekarang saya mau kasih tau tentang mengaktifkan / mengenable Regedit yg ter disable .
ketika kalian memanggil regedit pada run dan keluar dialog box seperti ini
maka ini lah solusi uuntuk mengatasi permasalahan kalian , pertama kalian buka gpedit.msc pada run
Akan muncul Windows Group Policy, selanjutnya akan ke [User Configuration]-[Administrative Templates]-[System]
Setelah itu pada jendela sebelah kanan(panel setting) Double Klik Prevent Access to Registry Editing Tools
Pada jendela yang muncul pilih NOT CONFIGURED atau DISABLED, untuk mengatifkan fungsi regedit.
Klik OK.
Sekarang Anda coba akses kembali regedit dari komputer Anda,jika belum bisa juga coba Anda restart komputer Anda dan akses lagi registry editor-nya.
Dan jika Anda ingin sengaja mendisable registri editor Anda, caranya sama dengan di atas cuman pada tahap akhir setelah Anda mengklik Prevent Access to Registry Editing Tools, pilih Enable dan klik OK, maka regedit Anda akan terdisable oleh Administrator.
Sekian Tips dari saya dan Selamat Mencoba :)
Semoga Bermanfaat bagi kalian semua yang senasib sama saya :D hehehehheh
Minggu, 14 Juli 2013
Sahur Dalam Bulan Ramadhan
- Hikmah Sahur dalam Puasa
Allah mewajibkan puasa kepada kita sebagaimana telah mewajibkan kepada orang - orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab Allah berfirman (yang artinya) :
"Wahai orang-orang yg beriman diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebeleum kalian agar kalian bertaqwa." (Surat Al- Baqoroh :183)
Waktu dan hukumya pun sesuai dgn apa yg diwajibkan pada Ahlil Kitab yakni tak boleh makan dan minum dan menikah setelah tidur. Yaitu jika salah seorang mereka tidur tak boleh makan hingga malam selanjut demikian pula diwajibkn atas kaum muslimin sebagaimana kami telah terangkan di muka krn dihapus hukum tersebut Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menyuruh sahur sebagai pembeda antara puasa kita dgn puasa Ahlul Kitab.
Dari Amr bin 'Ash radhiallahu 'anhu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wasallam bersabda (yang artinya): "Pembeda antara puasa kita dgn puasa Ahlul Kitab adl makan sahur". (HR Muslim (1096)). - Keutamaan Sahur
Barokah Sahur .
Dari Salman radhiallahu 'anhu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya): "Barokah ada pada tiga perkara : Jama'ah Tsarid dan makan sahur." (HR. Thabrani dalam "Al-Kabir" (6127) Abu Nu'aim pada "Dzikru Akhbari Ashbahan" (1/57))
Dan dari Abu Hurairah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya): "Sesungguh Allah menjadikan barakah itu pada makan shaur dan kiloan". (HR. Asy-Syirasy (Al-Alqab) sebagaimana dalam (Jami'as Shaghir) (1715) dan Al-Khatib (Al-Muwaddih) (1/263) dari Abi Hurairah dgn sanad yg lalu. Hadits ini HASAN)
Dari Abdullah bin Al-Harits dari seorang sahabat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam : Aku masuk menemui Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam ketika dia makan sahur beliau berkata (yang artinya): "Sesungguh makan sahur adl barokah yg Allah berikan pada kalian maka janganlah kalian tinggalkan". (HR Nasa'I (4/145) dan Ahmad (5/270) sanad SHAHIH).
Keberadaan sahur sebagai barokah sangatlah jelas krn dgn makan sahur berarti mengikuti sunnah menguatkan dalam puasa menambah semangat utk menambah puasa krn merasa ringan orang yg puasa dalam makan sahur juga menyelisihi Ahlul Kitab krn mereka tak melakukan makan sahur. Oleh krn itu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wasallam menamai makan pagi yg diberkahi sebagaimana dalam dua hadits Al-Irbath bin Sariyah dan Abi Darda' radhiallahu 'anhuma "Marilah menuju makan pagi yg diberkahi : yakni sahur." (hadits Al-Irbath: diriwayatkan oleh Ahmad (4/126) dan Abu Daud (2/303)).
Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yg sahur.
Mungkin barokah sahur terbesar adl Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan meliputi orang-orang yg sahur dgn ampunan-Nya memenuhi mereka dgn rahmat- Nya malaikat Allah memintakan ampunan bagi mereka berdo'a kepada Allah agar memaafkan mereka agar mereka termasuk orang-orang yg dibebaskan oleh Allah di bulan Ramadhan.
Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu 'anhu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya): "Sahur itu makanan yg barokah janganlah kalian meninggalkan walaupun hanya meneguk seteguk air krn Allah dan malaikat- Nya bershalawat kepada orang-orang yg sahur."
Oleh sebab itu seorang muslim hendak tak menyia-nyiakan pahala yg besar ini dari Rabb yg Maha Pengasih. Dan sahur seorang mukmin yg paling afdhal adl korma.
Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam (yang artinya): "Sebaik-baik sahur seorang mukmin adl korma." (HR Abu Daud (2/303) Ibnu Hibban (223) Baihaqi (4/237)).
Barangsiapa yg tak menemukan korma hendak bersungguh-sungguh utk berbuka walau hanya dgn meneguk satu teguk air krn fadhilah (keutamaan) yg disebutkan tadi dan krn sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam (yang artinya): "Makan sahurlah kalian walau dgn seteguk air." - Hukum Mengakhirkan sahur.
Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar krn Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam dan Zaid bin Tsabit radhiallahu 'anhu melakukan sahur ketika selesai makan sahur Nabi Shalallahu 'Alaihi wasallam bangkit utk shalat subuh dan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuk shalat kira-kira lama seseorang membaca lima puluh ayat di kitabullah.
Anas radhiallahu 'anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiallahu 'anhu: "Kami makan sahur bersama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam kemudian beliau shalat aku tanyakan (kata Anas): "Berapa lama jarak antara adzan dan sahur? Beliau menjawab: "Kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur'an." (HR. Bukhori (4/118) Muslim (1097)).
Ketahuilah wahai hamba Allah –mudah-mudahan Allah membimbingmu- kamu diperbolehkan makan minum dan jima' selama ragu telah terbit fajar atau belum dan Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan batasan-batasan hingga jelaslah sudah krn Allah Jalla Sya'nuhu memaafkan kesalahan kelupaan serta membolehkan makan minum dan jima' ada penjelasan sedangkan orang ragu belum mendapat penjelasan. Sesungguh kejelasan adl satu keyakinan yg tak ada keraguan lagi jelaslah. - Hukum Sahur
Oleh krn itu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam memerintahkan –dengan perintah yg sangaat ditekankan- Beliau bersabda (yang artinya): "Barangsiapa yg mau berpuasa hendaklah sahur dgn sesuatu."
Dan bersabda (yang artinya): "Makan sahurlah kalian krn dalam sahur ada barokah." (HR Bukhori (4/120) Muslim (1095) dari Anas).
Kemudian menjelaskan tinggi nilai sahur bagi umat beliau bersabda (yang artinya):
"Pembeda antara puasa kami dan Ahlul Kitab makan sahur."
Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam melarang meninggalkan beliau bersabda (yang artinya):
"Sahur adl makanan yg barokah janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya meminum seteguk air krn Allah dan Rasul-Nya memberi shalawat kepada orang yg sahur". (HR Ibnu Abi Syaibah (3/8) Ahmad (3/123/44) dari tiga jalan dari Abi Said al-Khudri. sebagian menguatkan yg lain).
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya): "Sahurlah kalian walaupun dgn setengah air." (HR Abu Ya'la (3340) dari Anas ada kelemahan didukung oleh hadits Abdullah bin Amr di Ibnu Hibban (no.884) pada An'anah Qatadah: Hadits hasan).
Saya katakan: kami berpendapat perintah nabi Shalallahu 'Alaihi wasallam ini sangat ditekankan anjuran hal ini terlihat dari tiga sisi :
1. Perintahnya.
2. Sahur adl syiar puasa seorang muslim dan pemisah antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab.
3. Larangan meninggalkan sahur
Inilah qarinah yg kuat dan dalil yg jelas. Walaupun demikian Al-Hafidz Ibnu Hajar menukilkan dalam kitab "Fathul Bari" (4/139) ijma' atas sunnahnya! Wallahu A'lam
Sumber : Syaikh Salim bin 'Id Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
Menunda Haid Demi Puasa
Kasihan kaum perempuan yang rajin beribadah, ingin senantiasa bersama Tuhannya, lantas kedatangan rutinitas haid (daurah syahriyah). Puasanya terputus, tidak bisa beri'tikaf, tidak pula tadarrus (membaca al-Qur'an). Dengan terpaksa tanpa salat malam, tidak pula tadarrus, ia melakukan munajat ke hadirat Tuhannya melalui dzikir-dzikirnya.
Sebenarnya kaum perempuan juga tak perlu bersedih saatnya datang bulan. Bukankah menerima apa adanya, ikhlas, dia tidak berpuasa, tidak melakukan salat itu juga menuruti syari'at? Dengan begitu, sebenarnya juga ia beribadah? Pahala baginya?
Iya, tapi kan kurang puas.
Nah, bagaimana seandainya ia menggunakan obat penunda haid, dengan harapan bila ia suci dari haid maka bisa sepuasnya menikmati ibadah dalam Ramadhan yang penuh berkah ini, bolehkah?
Selama obat itu tidak menimbulkan efek yang membahayakan kesehatannya, ya boleh saja. Ibnu Qudâmah al-Hanbaliy (meninggal tahun 620 H, sekitar awal abad 13 M) dalam kitabnya Al-Mughni(juga Al-Hathaab al-Mâlikiy dalam kitabnya Mawâhib al-Jalîl, dan Al-Ramliy al-Syâfi'iy dalam Al-Nihâyah-nya) telah membahas hal yang sama. Mereka tak mempermasalahkan seorang perempuan yang meminum obat-obatan penunda haid.
Hal yang sama juga berlaku dalam ibadah haji. Seorang perempuan yang khawatir terganggu ibadah hajinya gara-gara haid, silahkan saja meminum obat penunda haid.
Tapi, sekali lagi, saya lebih memilih sesuatu yang natural, yang alami. Bila saatnya datang bulan, ya sudah tak apa-apa, lakukan saja dengan ikhlas.
Sebenarnya kaum perempuan juga tak perlu bersedih saatnya datang bulan. Bukankah menerima apa adanya, ikhlas, dia tidak berpuasa, tidak melakukan salat itu juga menuruti syari'at? Dengan begitu, sebenarnya juga ia beribadah? Pahala baginya?
Iya, tapi kan kurang puas.
Nah, bagaimana seandainya ia menggunakan obat penunda haid, dengan harapan bila ia suci dari haid maka bisa sepuasnya menikmati ibadah dalam Ramadhan yang penuh berkah ini, bolehkah?
Selama obat itu tidak menimbulkan efek yang membahayakan kesehatannya, ya boleh saja. Ibnu Qudâmah al-Hanbaliy (meninggal tahun 620 H, sekitar awal abad 13 M) dalam kitabnya Al-Mughni(juga Al-Hathaab al-Mâlikiy dalam kitabnya Mawâhib al-Jalîl, dan Al-Ramliy al-Syâfi'iy dalam Al-Nihâyah-nya) telah membahas hal yang sama. Mereka tak mempermasalahkan seorang perempuan yang meminum obat-obatan penunda haid.
Hal yang sama juga berlaku dalam ibadah haji. Seorang perempuan yang khawatir terganggu ibadah hajinya gara-gara haid, silahkan saja meminum obat penunda haid.
Tapi, sekali lagi, saya lebih memilih sesuatu yang natural, yang alami. Bila saatnya datang bulan, ya sudah tak apa-apa, lakukan saja dengan ikhlas.
Rukun Puasa
Yang dimaksud menahan, imsâk di sini adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan hubungan suami-isteri (setubuh, jimâ') sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Firman Allah: "Maka sekarang campurilah mereka (istri-istrimu) dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu, makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam" (QS. 2. al-Baqarah: 187)
Maksudnya, setelah matahari terbenam (Maghrib) Allah membolehkan hamba-Nya untuk makan, minum dan bersatu kembali dengan istri-istrinya sampai datang fajar menyingkap kegelapan malam. Allah menyamakan malam dengan benang hitam dan siang dengan benang putih, sehingga jelaslah bahwa benang yang dimaksud di sini tidak ada hubungannya dengan kain, melainkan fajar.
Dalam kitab Sahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah Hadis dari Sahl Ibn Sa'd: "Telah diturunkan ayat, 'makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam'; dan ketika itu kata min al-fajr, fajar belum diturunkan. Maka orang-orang yang hendak berpuasa mengikatkan benang putih dan hitam pada kedua kakinya. Mereka masih asyik makan sampai benar-benar bisa melihat warna kedua benang tersebut. Kemudian turunlah firman Allah min al-fajr, fajar. Barulah mereka mengerti bahwa yang dimaksud benang hitam dan putih adalah malam dan siang.
Juga dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari 'Addâ Ibn Hatim, ia berkata: "Ketika turun ayat, 'makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam'; aku mengira, yang dimaksud adalah dua helai benang, satu berwarna putih dan satunya lagi berwarna hitam. Kemudian kuletakkan benang-benang itu di bawah bantal. Benang-benang itu kujadikan patokan. Jika telah tampak benang putih, maka aku pun mulai menahan diri, puasa. Ketika pagi menjelang, aku pun bergegas menemui Rasulullah dan menceritakan apa yang telah kuperbuat. Beliau bersabda: 'Wah, jika begitu bantalmu bertambah tebal, dong! Adapun yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah terangnya siang dan gelapnya malam'." Maksud ungkapan, "jika begitu bantalmu bertambah tebal" adalah bertambah tebal karena ditambah dua benang, hitam dan putih yang diletakkan di bawah bantal, yang oleh ayat sendiri dimaksudkan terangnya siang dan gelapnya malam.
Ketika para ulama memberi definisi puasa dengan menahan, al-imsâk, maka yang dimaksud menahan di sini adalah menahan dari semua perkara yang membatalkan puasa. Termasuk di dalamnya adalah makan, minum, dan juga hubungan badan, jimâ. Selain itu, ada juga hal-hal lain yang belum disebutkan, di antaranya sesuatu yang dimasukkan melalui rongga tubuh meskipun rongga itu bukan merupakan rongga yang biasa digunakan untuk makan atau minum, seperti infus. Maka puasa menjadi batal dengan masuknya hal-hal semacam itu ke dalam lambung dengan disengaja, baik cara memasukkannya melalui mulut, hidung, telinga, anal, maupun infus.
Adapun celak dan obat tetes yang digunakan pada mata, jika ditemukan rasanya di tenggorokan maka puasanya rusak, namun jika rasa tersebut tak ditemukan maka puasanya tetap sah (sebagian ulama berpendapat, obat tetes mata dan celak tidak membatalkan puasa meskipun ditemui rasanya di tenggorokan, karena hal itu bukan merupakan hal yang lazim sebagai pengisi perut dan tidak mengeyangkan, penyunting).
Imam Abu Hanifah dan Syafi'i berpendapat, pemakaian celak tidak membatalkan puasa. Hal ini berdasarkan riwayat bahwa Nabi saw bercelak di bulan Ramadan sedangkan beliau berpuasa. Juga karena mata bukanlah termasuk lobang yang menerus ke perut, sehingga apa yang masuk melaluinya tidak merusakkan puasa, sama seperti orang yang meminyaki rambut di kepalanya.
Adapun sesuatu yang tidak mungkin dihindari masuknya seperti air liur yang tertelan, debu jalanan, atau tepung yang diayak, semuanya tidak membatalkan puasa, dan termasuk ke dalam kategori yang di maafkan, ma'fu 'anh. Seperti juga debu atau lalat yang terbang kemudian masuk secara tidak sengaja ke mulut atau tenggorokan, mani yang keluar tanpa disengaja-sebab mimpi atau karena berpikir seputar seks, atau orang yang tiba-tiba muntah, maka hal-hal tersebut tidak membatalkan puasa.
Apabila terasa ada makanan yang tersisa di tenggorokan dan sulit untuk mengeluarkannya maka hukumnya disamakan dengan air liur di atas, tidak membatalkan puasa.
Rukun Kedua: Niat
Pengikut mazhab Syafi'i menganggap niat sebagai salah satu rukun puasa, sedangkan pengikut mazhab-mazhab lainnya menganggap niat sebagai salah satu syaratnya.
Niat secara bahasa diartikan: maksud, bermaksud (al-qashd), sedangkan secara terminologi agama diartikan dengan: "Bermaksud mengerjakan sesuatu yang dibarengi pelaksanaannya. Apabila pelaksanaanya tertunda, tidak berbarengan dengan maksudnya, maka disebut 'azm, azam, keinginan.
Dalil tentang wajibnya niat ini adalah firman Allah: "Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus" (QS 98. al-Bayyinah : 5), juga sabda Rasul: "Sesungguhnya amal perbuatan disertai dengan niat-niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang telah mereka niatkan" (HR. Bukhârî).
Diriwayatkan dari Hafshah, Ummul Mukminin ra. bahwa Nabi saw bersabda: "Barang siapa yang tidak berniat puasa pada malam hari, sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya." Hadis ini menunjukkan ketidak-absahan puasa tanpa disertai niat pada malam hari. Waktu niat adalah sepanjang malam. Ia bisa dilaksanakan kapan saja sejak terbenamnya matahari dan sebelum terbitnya fajar, setiap malam bulan Puasa. Dengan niat inilah dibedakan antara ibadah dengan adat, kebiasaan. Dan dengan niat ini pula dibedakan antara ibadah fardhu dengan ibadah sunah.
Niat tidak harus diucapkan dengan lisan, karena ia merupakan pekerjaan hati. Barangsiapa sahur di malam hari dengan maksud melaksanakan puasa, maka itu sudah termasuk niat. Niat cukup pula dihadirkan dalam hati di waktu malam bahwa ia akan berpuasa hari esok.
Menurut Mazhab Mâlikî, niat tidak perlu diucapkan tiap malam, tapi cukup dilakukan sekali saja jika puasa yang dilakukan adalah puasa yang berkelanjutan dan berturut-turut, seperti puasa pada bulan Ramadan, puasa kafarat-kafarat Ramadan, kafarat membunuh, dan kafarat dzihar-, dan lainnya, selama kelanjutan tersebut tidak terputus. Jika kelanjutan puasa terputus-dikarenakan uzur, semisal bepergian, sakit, atau lainnya-, maka niat wajib dihadirkan setiap malam.
Adapun puasa yang tidak harus dilakukan berturut-turut, seperti puasa kafarat sumpah, dan puasa untuk mengqadha, mengganti puasa yang ditinggalkan, maka diharuskan berniat setiap malamnya.
Sementara untuk puasa sunah, menurut Mazhab Syafi'i, niat bisa dilakukan-di samping pada malam hari-pada waktu pagi hari, sebelum waktu Dzuhur dan dengan catatan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sebelumnya.
Menurut Madzhab Hanafî, niat puasa sunah adalah sejak malam hari hingga pertengahan siang, namun akan lebih baik bila niat dilakukan pada malam hari dan dengan mengucapkannya.
Sedangkan Mazhab Mâlikî berpendapat, niat tidak sah dihadirkan pada waktu siang hari, apa pun jenis puasanya, termasuk puasa sunah.
Madzhab Hanbalî berpendapat, niat puasa sunah bisa dilakukan pada siang hari, meskipun dilakukan setelah matahari tergelincir-sesudah waktu Dzuhur. Asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum dan seterusnya.
Dalil sahnya puasa sunah dengan niat di siang hari ini adalah Hadis yang diriwayatkan dari 'Aisyah ra. yang mengatakan: "Suatu hari Nabi saw. datang kepadaku dan bertanya, 'Apakah engkau punya makanan?' Saya menjawab, 'Tidak ada'. Beliau saw. pun lantas berkata, 'Kalau begitu aku puasa'. Di hari yang lain beliau datang lagi kepadaku. Aku katakan kepadanya, kita dihadiahi hays. Beliau menjawab, 'Perlihatkanlah kepadaku. Aku sebenarnya puasa sejak pagi'. Kemudian beliau pun memakan hays tersebut" (HR. Muslim).
Hays adalah kurma kering berserta mentega dan keju.
Sebagian ulama berpendapat, ungkapan Nabi saw di atas bersifat umum. Ada kemungkinan Nabi saw berniat puasa sejak malam, bisa juga tidak. Namun berdasarkan hadis sebelumnya, riwayat dari Hafshah di atas, niat puasa pada dasarnya dilakukan pada malam hari. Puasa ini pun berlaku umum, bisa berupa puasa fardhu, sunah, qadha maupun nazar.
Dalam masalah ini, kita boleh mengikuti salah satu pendapat mazhab-mazhab di atas, namun yang lebih afdal melakukan niat pada malam hari untuk menghindari perbedaan pendapat yang ada. Wa 'l-Lah-u a'lam.










.jpg)













